sbn-BATOLA, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Barito Kuala (Batola) merekomendasikan kajian komprehensif untuk mengungkap penyebab penurunan oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) yang memicu kematian massal ikan di Sungai Barito.
DALAM sepekan terakhir, kadar DO di Sungai Barito terpantau jauh di bawah ambang batas baku mutu.
Kondisi ini menyebabkan ikan berbagai ukuran mati lemas, terutama pada budidaya keramba apung.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batola, Abdi Maulana, mengungkapkan bahwa pemantauan kualitas air rutin dilakukan setiap enam bulan.
Hingga akhir 2025, belum ditemukan kejadian luar biasa. Namun sejak 24 Januari 2026, terjadi penurunan DO hingga 1,25 mg/l, padahal baku mutu minimal sungai kelas II seperti Sungai Barito adalah 4 mg/l.
Hal tersebut disampaikannya dalam rapat bersama komisi gabungan DPRD Batola pada Rabu (28/1/2026).
Berdasarkan data Online Monitoring (Onlimo) yang terhubung dengan server Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), sejumlah parameter kualitas air di wilayah Tapin, Hulu Sungai Tengah, dan Tabalong juga terpantau melebihi baku mutu.
DLH Batola kemudian melakukan pengecekan intensif pada Senin (26/1/2026) di sejumlah titik, antara lain Desa Sungai Lirik, depan Kodim 1005 Batola, pertemuan Sungai Nagara dan Barito di Kelurahan Lepasan, Ulek Marabahan, Desa Penghulu, hingga sekitar Jembatan Rumpiang.
“Hasilnya, pH air rata-rata sudah berada di angka 6, namun DO masih sangat rendah, berkisar antara 0,15 hingga 0,91 mg/l”
“Hanya di sekitar Jembatan Rumpiang DO mencapai 3,11 mg/l,” jelas Abdi.
Pengecekan lanjutan di perbatasan Kelurahan Ulu Benteng, Kecamatan Marabahan, dengan Desa Palingkau, Kecamatan Bakumpai, menunjukkan DO sebesar 1,89 mg/l.
Sementara di Dermaga Sungai Gampa, Kecamatan Rantau Badauh, DO tercatat hanya 0,43 mg/l dengan pH 4.
Dampak penurunan DO paling dirasakan pembudidaya ikan keramba apung di Kecamatan Marabahan dan Bakumpai. Sekitar 93.930 kilogram ikan dilaporkan mati dengan estimasi kerugian mencapai Rp3,287 miliar.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Batola, Suwartono Susanto, menyebutkan sedikitnya 25 kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) terdampak.
“Mayoritas keramba berada di perairan dengan kondisi DO rendah,” ujarnya.
Hingga kini, penyebab utama penurunan DO belum diketahui.
Mengacu pada Jurnal Perikanan dan Kelautan 2025, penurunan DO umumnya dipicu oleh peningkatan bahan organik atau limbah, suhu air tinggi, serta eutrofikasi akibat kelebihan nutrisi.
Selain itu, Sungai Barito juga mengalami penyusutan debit air yang berdampak pada kemampuan sungai dalam menetralkan pencemaran.
Abdi menambahkan, kejadian serupa pernah terjadi pada akhir 2019.
“Diperlukan kajian mendalam dengan peralatan memadai karena banyak faktor yang memengaruhi penurunan DO. Saat ini, penurunan DO baru menjadi identifikasi awal, dan sampai sekarang levelnya masih rendah, sekitar 1,11 mg/l,” kata Abdi.
Wakil Ketua I DPRD Batola, Harmuni, yang memimpin rapat menyampaikan, “Dibutuhkan kajian komprehensif yang melibatkan instansi terkait, ahli, dan akademisi untuk memastikan penyebab penurunan oksigen terlarut di Sungai Barito.”
Sementara itu, dalam jangka pendek, DKPP Batola telah berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Selatan serta Balai Perikanan Budi Daya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin untuk mengupayakan bantuan benih ikan bagi pembudidaya terdampak.***
ahim sbn


















