SUARA BANUA NEWS — Batola, Bercocok tanam di areal lahan rawa, seperti halnya di Barito Kuala (Batola), tidaklah mudah. Salah satunya produktivitas yang rendah. Hal tersebut disebabkan karakteristik lahan rawa yg memiliki lapisan pirit.
JIKA pirit teroksidasi akan membuat logam besi (Fe) dan meracuni tanaman, demikian yang disampaikan Direktur PT Tritama Wirakarsa Sudradjat Yusuf, pekan tadi di Marabahan.
MENURUT Sudradjat Yusuf,
ciri pirit itu berup air dan tanah berwarna kemerahan. Tanaman yang keracunan ditandai dengan pertumbuhan terhambat. Akar tidak berkembang, daun kuning kemerahan dan menyebabkan hasil panen menurun.
” Ciri ciri semua itu dikarenakan unsur hara yang penting bagi tanaman seperti Phospat (P) dan Kalium (K) di dalam tanah terikat oleh unsur besi (Fe)” jelasnya.
Sementara itu perwakilan pupuk Norwegia Mr.Trond Kristiansen, mengatakan
dampak perubahan iklim di lahan rawa juga mempengaruhi tingkat keracunan besi (Fe) ke tanaman, terutama terkait musim.
Semakin lama musim kemarau berlangsung, maka akan mempercepat proses oksidasi.
Selain itu, pola pengolahan tanah dengan bajak yg terlalu dalam juga dapat mengangkat lapisan pirit ke permukaan tanah.
Sebagai solusi dalam mengatasi persoalan petani di lahan rawa tersebut, teknologi Norwegia pupuk oksida mikro “Verno FG” formula khusus slow release dapat menurunkan kadar Fe di tanah dan membuat air tanah kemerahan menjadi bening, membebaskan ikatan unsur hara atau pupuk sehingga akar tanaman dpt menyerap unsur hara secara maksimal.***
iberahim sbn

















