suara banua news MARTAPURA – Empat tiang hijau setinggi 25 meter di Masjid Al Karomah, Martapura, menyimpan kisah heroik Datu Landak.

TIANG-tiang ulin tersebut merupakan bagian tertua masjid, dibawa oleh Syeikh Muhammad Afif bin Anang Mahmud Al Banjari (Datu Landak) pada tahun 1863.


Kisah bermula dari sayembara yang diadakan Pangeran Hidayatullah II. Datu Landak menerima tantangan mengambil empat batang kayu ulin dari Barito, Kalimantan Tengah.

Menurut Buyut Datu Landak, Muhammad Hilmi Karim Afif, Datu Landak harus beradu kesaktian dengan masyarakat Dayak yang menjaga hutan tersebut.

Setelah mengalahkan mereka dengan kesaktian dan kesabarannya, Datu Landak diizinkan mengambil kayu ulin yang konon memiliki cahaya.

Dengan kekuatan gaib, Datu Landak mencabut pohon ulin raksasa itu dan membawanya melalui Sungai Martapura.

Perjalanannya begitu lama hingga keluarga mengira beliau telah meninggal.

Kehadiran Datu Landak yang tiba-tiba di haul pertama, dengan pakaian seperti orang pedalaman dan membawa kayu ulin, mengejutkan keluarga.

Kayu ulin tersebut menjadi fondasi Masjid Al Karomah (saat itu bernama Masjid Jami) yang dibangun pada 10 Rajab 1315 Hijriyah (5 Desember 1897 Masehi).

Meskipun masjid telah direnovasi dan kini menampilkan arsitektur Timur Tengah, empat tiang ulin tersebut tetap menjadi saksi bisu sejarah dan kesaktian Datu Landak.

Sejarah dan keajaiban di balik pembangunannya

Masjid Agung Al Karomah Martapura, sebuah masjid tua bersejarah di Kalimantan Selatan, menyimpan kisah inspiratif di balik pembangunannya.

Sebelum berdiri megah di lokasi sekarang, masjid ini dulunya berada di Desa Pesayangan, tepat di depan Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Sayangnya, masjid tersebut dihancurkan oleh penjajah Belanda pada masa penjajahan Bumi Lambung Mangkurat.

Pada tahun 1280 H (1863 M), semangat untuk membangun kembali masjid yang lebih besar membakar hati masyarakat.

Tiga tokoh penting, HM Taher (Datu Kaya), Tuan Guru H Muhammad Apip (Datu Landak), dan HM Nasir, ditunjuk sebagai panitia pembangunan.

Pembangunan dimulai pada 10 Rajab 1315 H (5 Desember 1897 M).

Namun, kisah pembangunan Masjid Agung Al Karomah tak hanya sebatas kerja keras fisik.

Ada keajaiban yang menyertainya, khususnya dalam upaya KH Muhammad Afif (Datu Landak) mendapatkan empat batang kayu ulin raksasa untuk tiang masjid.

Kisah ini bermula dari dendam seseorang yang sakit hati karena cintanya ditolak oleh istri Datu Landak yang terkenal cantik.

Pengejaran terhadap Datu Landak dilakukan hingga ke pedalaman hutan Kalimantan, di perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Di tengah perjalanan, ia dihadang oleh orang-orang pedalaman yang bersenjata tajam.

Meskipun terikat pada dua batang pohon ulin yang besar, Datu Landak, dengan kekuatan iman dan pertolongan Allah, berhasil mematahkan ikatan dan menumbangkan pohon-pohon tersebut.

Datu Landak berhasil mengatasi serangan para penyerang, memperoleh kayu ulin, dan menyelesaikan pembangunan masjid yang megah hingga saat ini.

Kisah ini menjadi bukti nyata keteguhan iman dan keajaiban yang menyertai pembangunan Masjid Agung Al Karomah, menjadikannya lebih dari sekadar tempat ibadah, melainkan juga simbol ketahanan dan semangat masyarakat Martapura.***
n octviani sbn