sbn-RELIGI, Banyak umat Islam mengenal Malaikat Izrail sebagai malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa seluruh makhluk hidup.
NAMUN, sejarah penunjukan tugas ini ternyata memiliki kisah tersendiri yang tercatat dalam kitab At-Tadzkirah fi ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah karya ulama besar Imam Al Qurthubi.
Dalam kitab tersebut, Imam Al Qurthubi mengutip riwayat dari Imam Az Zuhri dan Wahab bin Munabbih yang mengungkapkan latar belakang mengapa Izrail yang dipilih Allah SWT untuk mengemban amanah berat tersebut.
Semua bermula saat Allah SWT berkehendak menciptakan manusia. Langkah awal yang diperintahkan adalah mengambil bahan berupa tanah dari permukaan bumi.
Perintah ini pertama kali disampaikan kepada Malaikat Jibril. Namun, setelah berusaha, Jibril menyadari dia tidak sanggup melaksanakannya.
Jibril pun memohon perlindungan dan keringanan kepada Allah SWT, dan permohonan itu dikabulkan.
Perintah yang sama kemudian dilimpahkan kepada Malaikat Mikail. Namun, nasib serupa dialami Mikail.
Dia juga merasa tidak kuasa mengambil tanah dari bumi dan memohon keringanan, yang kembali dikabulkan oleh Allah SWT.
Berikutnya, giliran Malaikat Izrail yang menerima perintah tersebut. Izrail pun awalnya memohon perlindungan dan menyatakan ketidaksanggupannya, sama seperti kedua malaikat sebelumnya.
Namun, kali ini permohonannya tidak dikabulkan. Izrail akhirnya menaati perintah ilahi dan mengambil sebagian tanah dari bumi untuk bahan penciptaan manusia.
Setelah tugas itu terlaksana, Allah SWT bertanya kepada Izrail, “Apakah engkau meminta perlindungan kepada-Ku dari tugas itu?” Izrail mengiyakan.
Allah kembali bertanya, “Mengapa engkau tidak kasihan terhadap tanah yang kamu ambil sebagaimana sahabatmu Jibril dan Mikail?”
Dengan penuh ketaatan, Izrail menjawab, “Ya Allah, ketaatan kepada-Mu lebih wajib aku turuti daripada kasih sayangku kepada tanah di bumi.”
Karena sikap patuh dan mengutamakan perintah Allah itu, Allah SWT pun menetapkan keputusan besar.
“Pergilah engkau, dan mulai saat ini kamu menjadi malaikat maut. Aku memberimu wewenang untuk mencabut nyawa semua makhluk,” firman Allah.
Mendapat amanah tersebut, Malaikat Izrail justru menangis. Ketika ditanya alasannya, ia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau menciptakan para nabi, rasul, dan orang-orang pilihan dari tanah ini.
Di alam semesta ini, tidak ada hal yang lebih mereka benci selain kematian. Jika mereka tahu akulah yang mencabut nyawa mereka, niscaya mereka akan marah dan membenciku.”
Allah SWT kemudian memberikan solusi agar Izrail tidak dibenci makhluk ciptaan-Nya.
“Sesungguhnya Aku akan menjadikan penyakit dan beberapa sebab lainnya sebagai penyebab kematian, sehingga kematian dinisbatkan pada hal-hal tersebut dan mereka tidak menyebutmu sebagai penyebabnya,” demikian janji Allah.
Sejak saat itu pula, berbagai penyakit dan sebab musabab kematian diciptakan.
Dari kisah ini, tersirat sejumlah pelajaran berharga. Pertama, Allah memberikan ruang bagi hamba-Nya untuk menyampaikan alasan dalam menerima atau menolak tugas, selama alasannya dapat diterima.
Kedua, tergambar betapa istimewanya kedudukan nabi, rasul, dan orang saleh, hingga para malaikat pun enggan melakukan sesuatu yang dianggap tidak disukai oleh mereka.
Pelajaran ketiga yang paling mendalam adalah peringatan berat mengenai tanah. Kisah ini menjadi bukti bahwa mengambil atau menguasai tanah yang bukan haknya merupakan perkara besar di sisi Allah.
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW dalam HR Bukhari dan Muslim, “Barangsiapa yang mengambil hak orang lain, meski hanya sejengkal tanah, maka akan dikalungkan ke lehernya pada hari kiamat nanti seberat tujuh lapis bumi.”
Kisah ini menjadi pengingat bagi umat Islam tentang besarnya tanggung jawab yang diemban para malaikat, serta peringatan tegas untuk tidak merampas hak orang lain, apalagi terkait tanah.***
Wallahua’lam bishawab.


















