sbn – INTERNATIONAL,Presiden Venezuela Nicolas Maduro (63) dan istrinya, Cilia Flores, dikabarkan ditangkap oleh Amerika Serikat (AS), Sabtu pagi (3/1/2026) seiring dengan serangan udara ke ibu kota Caracas, hasil dari operasi rahasia yang diberi nama “Operasi Absolute Resolve”.
SELAMA berbulan-bulan, intelijen AS memantau secara rinci gerak-gerik Maduro, termasuk tempat tinggal, pola makan, pakaian, dan bahkan hewan peliharaannya, dengan dukungan informan di dalam pemerintahan Venezuela.
Pasukan elit AS juga membuat replika persis rumah persembunyian Maduro di Caracas untuk melatih rute penyergapan.
Rencana intervensi militer ini, yang disebut sebagai yang paling luar biasa di Amerika Latin sejak Perang Dingin, disembunyikan dengan ketat dan tidak dikonsultasikan dengan Kongres AS.
Upaya penangkapan awal gagal empat hari sebelumnya meskipun telah mendapatkan persetujuan Presiden Donald Trump, karena pihak militer memilih menunggu cuaca yang lebih baik dan tutupan awan yang lebih sedikit untuk memaksimalkan unsur kejutan.
Setelah diekstraksi, Maduro dan Flores diangkut dengan kapal USS Iwo Jima dan kemudian pesawat, tiba di New York pada Sabtu malam.
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez dalam siaran langsung televisi mengecam tindakan itu sebagai “penculikan”, menuntut pembebasan keduanya dan menyerukan pembelaan warga.
Di sisi lain, Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago menegaskan keduanya akan diadili di Amerika.
Alasan penangkapan terkait tuduhan yang telah ada sejak Maret 2020, antara lain narkoterorisme, konspirasi impor kokain, dan kepemilikan senjata api.
Jaksa Agung AS Pamela Bondi mengkonfirmasi Maduro dan Flores didakwa di distrik selatan New York, sedangkan Departemen Luar Negeri AS telah menawarkan hadiah hingga 50 juta dolar AS untuk informasi terkait penangkapan Maduro.
Kemungkinan Maduro dan Flores akan dihadirkan di pengadilan federal Manhattan pada Senin (5/1/2026).
Selain keduanya, empat orang lain juga terdaftar dalam dakwaan, namun hanya Maduro dan istrinya yang ditahan saat ini.
Ketidakpastian mengenai kepemimpinan Venezuela muncul setelah penangkapan.
Rodriguez menyatakan akan mengambil alih kekuasaan namun tidak menggantikan Maduro, sedangkan Trump mengklaim Rodriguez telah dilantik sebagai presiden sesaat.
Laura Dib dari Washington Office on Latin America (WOLA) mengkonfirmasi Rodriguez tetap menjabat sebagai wakil presiden, dan transisi kekuasaan belum terjadi.***


















